06 April 2012

Apakah anda pernah mendengar anak-anak muda mengucapkan kata “jayus”? Atau bahkan anda sendiri yang sering mengucapkannya? Hehe. “Jayus” di mata mereka mempunyai makna dry humour, berusaha lucu tapi malah garing, ataupun geje :D 

Ternyata, kosa kata “jayus” itu mempunyai sejarah yang cukup menarik. Salah satu dosen saya mengetahui asal-usul kata tersebut. Beliau berkisah, “jayus” mulai populer pada sekitar tahun 97-98. Tepatnya di salah satu SMA di Jakarta.

Di SMA tersebut, ada seorang guru yang bernama pak Jayusman. Dan, pak Jayusman ini terkenal sebagai guru yang suka melucu ga jelas. Humor kering. Nah, sejak saat itu lah siswa-siswi di SMA tersebut jika mendengar teman mereka melucu ga jelas dan garing, mereka bilang, “ih, lu kaya pak jayusman.”

Ternyata lama kelamaan kata “pak dan man”-nya hilang menjadi, “ih, lu kaya jayus.” 

Eh, akhirnya kata “kaya” hilang juga menjadi, “ih jayus lu.” 

:D 

Dan, ternyata hingga saat ini kalimat, “ih jayus lu,” sudah akrab di telinga kita dimanapun. Di kehidupan sehari-hari, di media televisi dan radio, bahkan di socialmedia terutama twitter. 

Nah, bukan tidak mungkin kita membuat kosa kata baru lagi semacam “jayus” tadi. 

Presiden SBY terkenal sebagai presiden yang paling prihatin :p 

Ya, karena jika berbicara pada setiap konferensi pers dimanapun, Presiden SBY sering mengawalinya dengan kalimat, “saya prihatin.” 

Nah, sangat mungkin diantara kita berkicau, “jangan prihatin mulu lu, kaya Presiden SBY aja.” hehe. 

Lalu, mungkin lama kelamaan kalimat itu berubah menjadi, “nasib lu prihatin mulu ya, kaya SBY aja.” 

Saya harap perkembangan kalimat selanjutnya menjadi, “saya SBY melihat kondisi saudara-saudara kita di Papua.” 

Ataupun menjadi, “kerusuhan yang terjadi saat demonstrasi tentang kenaikan BBM pekan lalu sangat memSBYkan.” 

Silakan anda membuat kosa kata baru yang lain :D


Celoteh Serupa

0 comments:

Post a Comment

Paling Digandrungi